Penulis Itu Harus Cerdas Atau Haus Ilmu?

Perilaku apa yang Adra lakukan dalam cerita itu, telah menjadi pondasi tersendiri dalam rangka menunjang daya kreatifitas ketrampilan menulisnya. Bahkan, tidak saja kreatifitas menulisnya semakin terasah. Adra juga makin terbiasa merangkai kata dalam membahas suatu masalah dalam sebuah kalimat yang memikat dan efektif.

Belajar menulis akan semakin menyenangkan dan cepat mencapai kualitas tulisan yang baik, manakala membiasakan diri menulis setiap hari secara rutin. Jari-jari menulisnya akan jadi terbiasa seiring jam terbang berlatih menulis terus menerus.

Dalam suatu sesi pelatihan menulis. Seorang penulis senior memberi saran dengan contoh yang cukup efektif bila dilakukan siapa pun yang ingin sukses menulis.

  “Ambillah novel Ayat-ayat Cinta dan masukilah keindahannya, niscaya akan engkau dapat luasnya pengetahuan dan goresan yang penuh gizi. Kadang ia mengundang air mata, tetapi ujungnya tetap ilmu yang berguna. Kadang ia membuat hati kita tergoda, tetapi nafasnya tetaplah ajakan untuk kembali pada agama yang mulia.

Ajakan yang lembut dan penuh makna. Kalaulah tidak ditulis dengan kehausan ilmu yang kuat, tentulah ia akan menjadi tempelan ayat-ayat yang bikin penat.”[2]

Itulah sebuah petuah dari guru menulis dengan belajar dari karya-karya berkualitas. Dari sebuah karya berkualitas, seorang penulis pemula itu bisa belajar banyak tentang bagaimana gaya penulis profesional dalam menuangkan ide-ide pemikiran dari keilmuan yang dimilikinya itu ke dalam sebuah tulisan yang mengalir, menggugah dan penuh makna tanpa ada kesan menggurui pembacanya.

Proses berlatih menulis seperti itulah, pola yang coba diterapkan oleh Adra saat menulis. Kebiasaan rutin hariannya ialah dengan terus berlatih menulis tiada henti. Hasilnya, Adra sendiri telah merasakan kualitas tulisannya makin baik, mengalir, penuh makna dan bisa memikat hati para pembacanya. Hal itu, diketahui dari komentar para pembaca yang telah menikmati berbagai tulisannya.

BACA JUGA:  Jejak Awal Merangkai Kata

Gagasan yang baik sering tidak tersampaikan karena kita sibuk memikirkan bagaimana membuat awalan. Padahal, awalan yang terbaik adalah cetusan gagasan itu sendiri.[3] Demikianlah kata hati Adra menirukan apa yang pernah ditekankan oleh guru menulisnya.

❤oOo❤

Saat itu, kebiasaan membaca berita utama koran harian dan mengikuti siaran berita televisi —sebelum era media online ada—, merupakan sarana untuk mendapat ilmu pengetahuan bagi Sang Penulis, Adra Atanid. Selain itu, ternyata kebiasaan itu sangat membantu untuk mendapatkan ide dan gagasan tema tulisan yang bersifat aktual. Inilah sumber menggali ide menulis artikel aktual yang sangat disukai redaktur koran dan majalah.

Lalu, bagaimana aktivitas menulis Adra Atanid untuk mewujudkan agar tulisannya itu tetap aktual dan rutin bisa diterbitkan di koran dan majalah?

Temukan jawabannya dalam lanjutan cerita Sang Penulis, Adra Atanid berikutnya ya! 


[1] Mohammad Fauzil Adhim

[2] Mohammad Fauzil Adhim dalam Inspiring word for writers.

[3] Mohammad Fauzil Adhim

_❤oOo❤_

Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:

======

Anda ingin menjadi penulis sukses, ikuti terus tulisan saya seputar dunia tulis menulis secara rutin di leman website PRODUKTIF MENULIS di  www.ProduktifMenulis.com ya! Caranya klik whatsApp di bawah ini:

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di

https://insanitarian.com/ ,

http://www.produktifmenulis.com,

https://ardadinata.com/, dan

https://www.miqraindonesia.com/

Arda Dinata

Arda Dinata adalah penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di https://insanitarian.com/ , https://ardadinata.com/, dan https://www.miqraindonesia.com/

Tinggalkan Balasan

A Group Member of:
Toko SosmedToko SosmedToko SosmedWWW.ARDADINATA.COMWWW.ARDADINATA.COMInSanitarianMIQRA INDONESIA


error: Content is protected !!