Cerita Sang PenulisRenungan

Pemenang Tidak Pernah Menyerah

“Pemenang tidak pernah menyerah, dan orang yang menyerah tidak pernah menang.” Anda pasti sering mendengar kalimat ini, bukan? Tapi pernahkah Anda merasakannya dalam hidup Anda sendiri?

Oleh: Arda Dinata

Dalam cerita ini, kita akan menjelajahi perjalanan seorang pemuda yang membuktikan kebenaran pepatah tersebut dengan segenap hati dan keberaniannya.

Bayangkan sebuah kota kecil yang diselimuti kabut tipis setiap pagi, di mana sinar matahari bersinar lembut melalui dedaunan hijau, menciptakan suasana yang tenang dan damai. Di tempat inilah, cerita kita dimulai. Ini adalah kisah tentang impian, tekad, dan keberanian menghadapi rintangan yang tampaknya tidak teratasi.

* * *

Kalimat Pembuka Tulisan yang Menarik
Ilustrasi: Buatlah kalimat pembuka tulisan yang menarik. Bikinlah pembaca itu tertarik dan terpikat sejak pertama kali melihat tulisan kita. Satu diantaranya adalah judul tulisan dan alinea awal sebuah tulisan (Sumber foto: unsplash.com/@awcreativeut).

Di pinggir kota kecil yang bernama Desa Harapan, ada seorang pemuda bernama Arif. Arif adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh pamannya, Pak Rahman. Pak Rahman adalah seorang petani sederhana yang mengajarkan Arif tentang kerja keras dan kejujuran. Sejak kecil, Arif memiliki impian untuk menjadi pelari profesional, namun hidup di desa yang jauh dari kota besar membuat impian itu tampak seperti bintang di langit, indah tapi sulit digapai.

Setiap pagi, Arif berlari menyusuri jalanan desa yang berliku dan berbatu. Kakinya yang sudah terbiasa berlari tanpa sepatu menjejak tanah dengan kecepatan yang luar biasa. “Arif, kamu itu berlari seperti angin,” sering kali Pak Rahman berkata sambil tersenyum bangga. Tapi Arif tahu, untuk menjadi seorang pelari profesional, dia harus lebih dari sekadar cepat; dia harus gigih dan tak kenal lelah.

Di kota, ada perlombaan tahunan yang sangat terkenal, dikenal dengan nama “Maraton Harapan”. Ini adalah perlombaan yang menarik perhatian dari seluruh negeri. Arif selalu memimpikan untuk mengikuti maraton ini dan memenangkan piala yang hanya terlihat di majalah yang pernah dia temukan di perpustakaan sekolah. Namun, dengan keadaan ekonomi yang sulit dan tanggung jawab di ladang, impian itu tampak jauh dari kenyataan.

BACA JUGA:  Lomba Menulis dan Prestasi Penulis

* * *

Arif tidak hanya harus menghadapi tantangan finansial, tetapi juga pandangan skeptis dari masyarakat sekitar. Banyak orang di desanya yang tidak percaya bahwa seorang pemuda desa tanpa pelatihan profesional bisa bersaing di ajang sebesar itu. Bahkan, teman-teman sebayanya sering mengejeknya saat melihatnya berlari sepanjang hari.

“Arif, kamu pikir kamu siapa? Lari-lari di sini tidak akan membuatmu juara di kota,” ledek Budi, salah satu teman sekelasnya, saat mereka berkumpul di warung kopi desa. Tapi Arif tidak pernah menyerah pada cemoohan itu. Di dalam hatinya, dia tahu bahwa kemenangan tidak hanya tentang kemampuan, tetapi juga tentang keinginan yang tidak pernah padam.

Puncak dari konflik terjadi ketika Arif mengetahui bahwa pendaftaran untuk “Maraton Harapan” memerlukan biaya yang tidak sedikit. Uang itu adalah jumlah yang bahkan sulit untuk dibayangkan oleh keluarga Pak Rahman. Arif merasa dunia seolah runtuh, tapi dalam hatinya, ada suara kecil yang berkata, “Pemenang tidak pernah menyerah.”

* * *

Arif mulai mencari cara untuk mengumpulkan uang. Dia bekerja keras di ladang pada siang hari dan menjadi kurir untuk toko kelontong di malam hari. Setiap sen yang dia dapatkan disimpan dengan cermat. “Saya akan mengikuti lomba itu, Paman. Saya tidak akan menyerah,” kata Arif dengan mata bersinar penuh harapan.

Arda Dinata

Arda Dinata adalah penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di https://insanitarian.com/ , https://ardadinata.com/, dan https://www.miqraindonesia.com/

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!