Sejak saat itu, secara otodidak aku belajar bikin tulisan di sela-sela menyelesaikan tugas perkuliahan. Bahkan, beberapa bekas tugas mata kuliah pun setelah dirubah judul dan prolognya aku kirimkan ke redaksi koran dan majalah yang alamat redaksinya diperoleh dari koleksi bacaan milik perpustakaan kampus.
Waktu terus berjalan. Sejalan dengan itu, ternyata tidak terasa sudah puluhan artikel yang kubuat dan telah mengirimkan ke koran maupun majalah. Namun, hasilnya masih nihil yang lolos dari penilaian redaksi sehingga belum ada satu artikelpun yang dimuat oleh koran dan majalah tersebut.
Usahaku terasa sia-sia. Rasa lelah dan pikiran negatif mulai menggangguku. Kayanya aku tidak berbakat menulis nih! Guman hatiku menyikapi kegundahan karena tulisanku gagal sehingga tidak ada yang dimuat. Untungnya, aku tidak menyerah. Motivasi dan keinginan untuk mendapatkan uang itu masih cukup besar mempengaruhi usahaku.
“Seandainya ada teman atau orang yang mengajak jadi kenek angkot, aku mau deh asalkan bisa mendapatkan uang untuk mencukupi biaya hidupku sehari-hari,” pikirku saat itu selepas jam kuliah selesai.
Mungkin karena aku saat itu tidak bergaul dengan supir angkot, sehingga pantas saja tidak ada yang menawari jadi kenek angkot. Akhirnya, aku sadar sendiri. Masa sudah berusaha keras seperti ini, Tuhan tidak mau bantu dan mendengar doaku agar tulisan artikelku itu ada yang dimuat. Suara batinku penuh harap agar doa-doaku segera terkabul.
**
Pagi itu, aku pergi ke kampus dan mengikuti jadwal perkuliahan seperti biasanya. Selesai mata kuliah pertama, waktunya para mahasiswa rileks menikmati waktu istirahat. Aku sungguh kaget dapat kabar dari temanku yang habis mengembalikan lembar absensi mata kuliah jam pertama itu ke bagian akademik.
“Dra… itu ada kiriman paket majalah di ruang kantor kampus untukmu.”Ucap temanku sambil nyelonong ke luar kelas menuju kantin segera untuk bergabung dengan teman-temannya.
“Oke…, terima kasih informasinya.” Jawabku sambil langsung berjalan melangkahkan kaki menuju ruang administrasi yang biasa menerima kiriman surat dan paket untuk para mahasiswa.
Dengan kekuatan motivasi yang disirami rasa kesabaran, keuletan, ketekunan, dan terus belajar memperbaiki gaya menulisku agar sesuai dengan media koran dan majalah yang dituju. Akhirnya, usahaku yang selama ini dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan telah membuahkan hasil.
Ternyata, besarnya usaha yang kita lakukan itu tidak akan mengkiantai hasil. Bisik batinku menyetujui pernyataan tersebut.
Setelahnya menerima paket kiriman tersebut, terus terang aku tidak sabar untuk segera membuka dan melihat isinya. Ternyata, setelah kuperhatikan secara teliti, barang yang aku pegang itu ada dua paket majalah yang berbeda penerbitan sebagai bukti pemuatan atas tulisanku.
Alhamdulillah… pada bulan yang bersamaan tulisanku, akhirnya dimuat juga oleh dua majalah yang berbeda. Ucap batinku penuh rasa syukur yang tidak terkira membuat mataku berkaca-kaca menahan rasa haru dan bahagia.
Minggu berikutnya, akhirnya datang juga kiriman wesel pos berisi kiriman uang dari honorarium dua tulisan yang dimuat dalam majalah itu. Sungguh aku merasa bahagia dan pastinya motivasi menulisku semakin bertambah semangat untuk mengirim tulisan baik untuk majalah maupun koran.
Setelah aku baca ulang dari artikel yang telah dimuat dan membandingkan dengan tulisan aslinya, ada beberapa editan dan gaya penulisan yang dirubah redaksi sehingga kalimatnya lebih mengalir dan mudah dipahami oleh siapapun yang membaca. Dari sini, aku belajar banyak bagaimana membuat kalimat yang baik, gaya bahasa populer, dan selektif untuk memilih kata-kata yang tepat sesuai konteks kalimat serta aturan tata bahasa yang berlaku.
Lewat pelajaran berharga tersebut, lalu aku cek dan baca ulang artikel-artikel yang pernah dibuat namun tidak dimuat itu. Aku perbaiki pemilihan kata, susunan kalimat dan gaya bahasanya agar tidak kaku sehingga lebih mengalir dan berbobot isi tulisannya. Tanpa menunggu waktu lama, setelah semua tulisannya sudah diperbaiki dan terlihat lebih oke, langsung aku kirim ke koran yang terbit di Kota Bandung. Inilah rangkaian rahasia memulai pekerjaan menulis yang aku lakukan.
Satu minggu setelah pengiriman, aku cek koran yang ada rubrik kesehatan itu. Begitu dipegang korannya aku langsung buka ke halaman yang biasa memuat rubrik kesehatan. Aku melotot terpana tidak percaya melihat tulisan yang terpangpang itu.
….???
**
Kira-kira apa yang terpangpang ya….?
Untuk itu, jangan ketinggalan lanjutan cerita Sang Penulis, Adra Atanid berikutnya ya! Kira-kira apa yang terjadi dengan dunia kepenulisannya itu.
[1] Mohammad Natsir
Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:
======
Anda ingin menjadi penulis sukses, ikuti terus tulisan saya seputar dunia tulis menulis secara rutin di leman website PRODUKTIF MENULIS di www.ProduktifMenulis.com ya! Caranya klik whatsApp di bawah ini:
Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di
http://www.produktifmenulis.com,
https://www.miqraindonesia.com/
