Menyikapi Kegagalan Bagi Penulis

Menyikapi Kegagalan Bagi Penulis iLUSTRASI: Jangan buang naskah gagal, tapi masukkanlah naskah yang pernah ditolak dan diperbaiki itu untuk melengkapi bagian bab buku tertentu.

Sedari awal dari pengalaman, saya telah menyadari kemungkinan akan adanya penolakan dari naskah yang telah dikirimkan ke suatu media itu. Untuk itu, ketika menulis dengan mesin ketik, saya selalu membuat salinannya. Baik dengan cara di fotocopy maupun menggunakan karbon.

Salinan tulisan tersebut, menurut saya merupakan lahan yang paling baik untuk belajar menulis agar kualitas tulisan kita menjadi lebih baik ke depannya. Artinya, dari artikel yang diterbitkan (terpublikasi), maka seorang penulis dapat belajar dengan membandingkan antara salinan tulisan asli dengan tulisan yang sudah terbit.

Lewat pola membandingkan tulisan yang telah terbit itu, kita bisa melihat apakah ada kalimat yang diedit oleh redaksi. Yakni, kita bisa belajar secara mandiri bagaimana membuat kalimat yang efektif, kelogisan kalimat, keterbacaan narasinya, tata bahasa, membuat tulisan yang mengalir, dan lainnya.

Sebaliknya, dari tulisan yang ditolak (tidak diterbitkan) itu, seorang penulis bisa introspeksi diri atas kualitas tulisan tersebut. Baik terkait teknis penulisan, aktualitas tema, isi tulisan, alur pikir isi tulisan, dan hal lainnya terkait penulisan.

Pada konteks ini, berdasar pengalaman saya ketika tulisan itu ditolak redaksi (tidak terbit), maka paling tidak ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, adalah memperbaiki kualitas tulisan tersebut, baik terkait cara penulisan maupun kedalaman isi tulisan, dan atau hal teknis lainnya. Lalu, kita mencoba menerbitkannya ke media lain.

Kedua, lakukan pengarsipan dengan baik semua artikel yang telah kita tulis. Baik, tulisan yang telah dimuat maupun yang ditolak (termasuk yang telah diperbaiki). Artinya, biasakan kita sebagai penulis memiliki salinan terhadap artikel yang telah dibuat.

Untuk itu, jangan membuang naskah tulisan yang telah dibuat. Sebab, berdasarkan pengalaman naskah yang telah dibuat (terutama yang telah diterbitkan media) itu, dikemudian hari kita dapat membukukan naskah yang setema dalam satu buku utuh.

Biasanya, saya memasukkan beberapa naskah yang pernah ditolak dan diperbaiki untuk melengkapi bagian bab buku tertentu. Hal ini sejalan dengan pengalaman dari penulis Mohammad Fauzil Adhim ketika menyikapi suatu penolakan terhadap naskah yang telah susah-susah ia buat.  

Bagaiaman menurut Anda? Semoga informasi terkait menyikapi kegagalan bagi penulis ini bermanfaat. Salam produktif menulis dan sehat sukses selalu!

Akhirnya, saya punya keyakinan. Bagi Anda yang sudah membaca tulisan di blog www.ProduktifMenulis.com ini, harusnya sudah termotivasi membuat tulisan sesuai minatnya.

Untuk itu, silahkan tulis di kolom komentar ya. Tulisan apa saja yang sudah Anda tulis?

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di https://insanitarian.com/ , http://www.produktifmenulis.com, https://ardadinata.com/, dan https://www.miqraindonesia.com/

_❤oOo❤_

Anda ingin menjadi penulis sukses, ikuti terus tulisan seputar dunia tulis menulis secara rutin di leman website PRODUKTIF MENULIS di  www.ProduktifMenulis.com ya! Dan Untuk Pemesan Buku Strategi Produktif Menulis Tersebut, Bisa Langsung Klik Obrolan di WhatsApp di bawah Ini:

================================

_❤oOo❤_

Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di

https://insanitarian.com/ ,

http://www.produktifmenulis.com,

https://ardadinata.com/, dan

https://www.miqraindonesia.com/

2 thoughts on “Menyikapi Kegagalan Bagi Penulis

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!