Jadi, ikuti saja aturan dan persyaratan dari redaksi pada rubrik yang akan kita kirimi tulisannya tersebut. Kalau tulisan kita sudah bagus dan secara persyaratan teknis di atas sudah dipenuhi, maka kemungkinan tulisan itu lolos redaksi dan diterbitkan peluangnya sangat besar. Apalagi temanya aktual dan dibutuhkan oleh banyak pembaca.” Demikian penjelasan Adra panjang lebar.
Kedua, tulisan kita tidak dimuat, biasanya karena struktur tulisannya yang kaku dan tidak populer, seperti tulisan tugas kuliahan. Coba sekarang lihat lagi tulisan yang sudah kita buat, apakah struktur tulisannya seperti tugas kuliahan? Yakni, setelah judul, lalu ditulis pendahuluan, latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kesimpulan serta saran?
Kalau tulisan yang dibuat strukturnya seperti itu, maka dapat dipastikan tulisan tersebut tidak akan dimuat oleh koran. Sebab, koran itu bukan media kuliahan. Ingat, media seperti koran itu pembacanya hetrogen dari seluruh kalangan yang ada di masyarakat. Jadi, menulislah secara populer dan mengalir susunan kalimatnya. Caranya ialah dengan membuat tulisan itu tidak kaku sehingga enak dibaca dan mudah dipahami oleh pembaca, termasuk masyarakat awam sekalipun.
“Hindari pemakaian bahasa ilmiah. Gunakan bahasa yang mudah dipahami pembaca dan masyarakat umum. Kalaupun kita terpaksa menggunakan kata-kata ilmiah, coba ditulis padanan katanya dalam bahasa Indonesia yang mendekati arti kata ilmiah tersebut. Dan ditulislah padanan kata itu dalam tanda kurung.” Saran Adra untuk menyiasati ketika tetap harus menuliskan istilah ilmiah tersebut.
❤oOo❤
Dalam kesempatan yang lain, dalam sebuah diskusi kepenulisan, Adra menyampaikan hal penting diluar soal teknis. Tapi, justru hal ini harus diketahui oleh para penulis artikel, yaitu lakukanlah bermesraan menulis dengan media.
“Walau setelah tulisan kita dimuat koran, disarankan oleh banyak penulis untuk segera mengirimkan tulisan lagi yang baru. Kita hendaknya harus menjaga kualitas tulisan yang dibuat. Bahkan kalau bisa kualitasnya itu lebih bagus lagi dari sebelumnya.
Hal lain yang tidak kalah penting dan perlu dikatahui juga oleh setiap penulis yang tulisannya pernah dimuat adalah setiap penulis yang rutin dimuat lebih dari satu kali itu, biasanya namanya sudah masuk dalam list catatan redaksi bersangkutan untuk mendapatkan jatah pemuatan tulisannya.
Pokoknya, ada semacam jatah pemuatan tulisan untuk penulis tertentu tiap bulannya. Walaupun hal ini aturannya tidak tertulis. Ini hanya berdasarkan pengalamanku. Inilah wujud kemesraan yang patut dijaga dan dibina terus antara penulis dengan redaktur rubrik yang biasa kita kirimi tulisan.” Beber Adra terkait pengalamannya dalam menjaga kemesraan dengan media agar tulisannya terus dimuat.
Sebetulnya ada rahasia lain lagi dari Sang Penulis, Adra Atanid yang lebih ampuh agar tulisannya itu rutin bisa dimuat tiap edisinya. Mau tahu? Ikuti cerita dari Adra Atanid berikutnya ya!
Salam literasi dan produktif menulis. (Arda Dinata).
_❤oOo❤_
Nikmati tulisan lainnya di sini yang sesuai kategori:
======
Anda ingin menjadi penulis sukses, ikuti terus tulisan saya seputar dunia tulis menulis secara rutin di leman website PRODUKTIF MENULIS di www.ProduktifMenulis.com ya! Caranya klik whatsApp di bawah ini:
Arda Dinata adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di
http://www.produktifmenulis.com,
https://www.miqraindonesia.com/
