Alam, Tafakur, dan Sumber Menulis

Alam, tafakur, dan sumber menulis. Sebuah anjuran yang begitu merangsang kita untuk segera menulis. Kalimat itu tidak berlebihan, buktinya coba simak paragraf berikut ini:

“Semilir angin segar menerpa wajah. Menyejukkan paru-paru yang terpelihara. Memanjakan diri dari aktivitas yang melelahkan pikiran. Bertafakur ria dengan seisi dunia. Alam semesta telah memanjakan akan arti kehidupan bagi manusia yang berpikir. Aku bersujud akan nikmat yang tersaji hari ini.” 

~Arda Dinata~

PRODUKTIF MENULIS – Kutipan paragraf di atas, saya tulis ketika membaca kata alam, tafakur, dan sumber menulis. Setelah membacanya, langsung terlintas dalam pikiran saya rangkaian kata yang ingin segera dituliskan. Dan hasilnya adalah seperti yang dikutip di atas.

Ketika kita bertafakur dan merenungkan tentang alam, pikiran kita langsung bisa mengingat apa-apa yang telah dialami selama ini. Apa yang pernah dialami, dibaca, dan direnungkan maupun dipikirkan sesungguhnya itu sudah menjadi modal sebagai bahan menulis.

Dalam kasus seperti itu, sesungguhnya kita tinggal mencari pemancing ide untuk mengeluarkan isi pikiran dari seorang penulis. Pemicu ide bisa muncul dari membaca, merenung, dan berinteraksi dengan manusia maupun alam semesta.

Alam

alam sumber inspirasi menulis
Ilustrasi, alam sumber inspirasi menulis. Tulisan hasil proses merenung itu, tentu setelah jadi tulisan utuh akan memberi kebaikan bagi umat manusia yang membacanya (Sumber foto: unsplash.com/@8moments).

Alam itu sahabat manusia yang setia. Kesetiaan alam ini memberi konsekuensi bagi makhluk hidup yang ada di bumi ini. Artinya alam akan selalu bermesraan dengan manusia, bila manusia itu mampu mengelolanya dengan baik. Sebaliknya alam akan murka bila manusia serakah dan tidak bersahabat dengan seisi alam.

Alam semesta ini, selain menyajikan keindahan dan kesejukan, bila ditafakuri ada seribu inspirasi yang bisa dituliskan. Tulisan hasil proses merenung itu, tentu setelah jadi tulisan utuh akan memberi kebaikan bagi umat manusia yang membacanya. Inilah yang saya istilahkan dengan ungkapan, “Alam, tafakur, dan sumber menulis.”

BACA JUGA:  Membelai Jiwa Bersulam Inspirasi

Sumber menulis itu bisa dari mana saja, termasuk dari alam semesta. Berinteraksi dengan alam, bagi seorang penulis merupakan lahan untuk melepas kepenatan pikiran dan juga menjadi sumber inspirasi dalam menulis.

Banyak ide menulis yang bisa kita kolaborasikan berasal sesuatu yang ada di alam. Baik fenomena, materi alam, maupun interaksi kehidupan yang terjadi di alam semesta ini. Apapun tema tulisan yang akan ditulis, saya percaya hal itu dapat kita kolaborasikan dengan ide dari alam semesta. Untuk itu, sering-seringlah bertafakur dengan alam.

Tafakur

alam, tafakur, dan sumber menulis
Ilustrasi, mentafakuri alam, kehidupan binatang, dan perilaku manusia merupakan ladang inspirasi bahan tulisan (Sumber foto: unsplash.com/@wangbinghua).

Bagi penulis, tafakur merupakan ladang inspirasi untuk bahan tulisannya. Bagi penulis yang kreatif, apa pun yang didapat dari alam, semuanya bisa dijadikan bahan tulisan yang menarik. Mulai dari deskripsi keindahan dan kesejukan alam itu sendiri yang tentunya sangat baik bagi kesehatan. Maupun makna yang tersirat dibalik fenomena alam yang terjadi sebagai ibroh bagi kehidupan manusia.

Arda Dinata

Arda Dinata adalah penulis buku Strategi Produktif Menulis dan penulis kolom di https://insanitarian.com/ , https://ardadinata.com/, dan https://www.miqraindonesia.com/

4 komentar pada “Alam, Tafakur, dan Sumber Menulis

Tinggalkan Balasan

A Group Member of:
Toko SosmedToko SosmedToko SosmedWWW.ARDADINATA.COMWWW.ARDADINATA.COMInSanitarianMIQRA INDONESIA


error: Content is protected !!